Review Buku: Habibie, Tak Boleh Lelah dan Kalah

Hak milik: https://fachmycasofa.com/bagaimana-saya-menulis-buku-habibie-tak-boleh-lelah-dan-kalah/
Penulis: Fachmy Casofa
Tahun Cetak: Februari 2014
Penerbit: Penerbit Tiga Serangkai

"Siapa lagi yang diharapkan membangun bangsa Indonesia menjadi masyarakat makmur, adil, sejahtera, dan tenteram jikalau bukan anak bangsa". 
Itulah kalimat yang pertama kali muncul setelah kita buka halaman muka. Sementara itu, jika buka dari halaman belakang, pembaca akan disuguhi kalimat inspiratif:
"Apa yang membuat saya begitu mencintai Indonesia, sehingga berani meninggalkan karier di Jerman adalah karena proses pembudayaan yang diberikan oleh orang tua saya dan keyakinan bahwa jikalau bukan 'anak bangsa' yang membangun Indonesia sesuai UUD, jangan harapkan orang lain membangunnya."
Buku ini bersampul putih elegan dengan Eyang Habibie sebagai model. Huruf cetak yang digunakan cukup memanjakan pembaca. Ratusan foto yang disematkan juga membawa pembaca larut dalam khayalan kehidupan beliau.

Buku ini menyajikan 2 hal. Perihal yang pertama adalah kisah kehidupan Eyang Habibie, dengan episode masa kanak-kanak, masa remaja, masa menuju dewasa, dan masa tuanya. Hal ini sesuai dengan target penulis, yang menyatakannya dalam website pribadinya, untuk menyasar tiga generasi pembaca, generasi tua, generasi yang mengetahui Habibie setelah turun jabatan presiden, dan generasi milenial.

Apabila cerita kehidupan ini dibaca dengan seksama, pembaca akan tahu kalau Eyang Habibie telah memperlihatkan cikal bakal dirinya akan menjadi orang hebat di bidang teknologi. Beliau menunjukkan minatnya, dengan membaca buku, pada buatan tangan manusia seperti infrastruktur, pesawat terbang, permesinan, dan lain-lain. Eyang Habibie menunjukkan dirinya memiliki pendirian, di mana dikisahkan jika seseorang ingin berargumen dengan beliau maka orang tersebut akan mendapat balasan argumen yang bertubi-tubi.

Sisi lain dari Eyang Habibie adalah caranya menunjukkan cinta secara umum. Cintanya terhadap masyarakat, bangsa, lingkungan, istrinya tercinta Almarhumah Ibu Ainun, dan Allah SWT ditunjukkan melalui tulisan tangan puisi, dari pilihan hidupnya, dan dari pernyataan yang dibuatnya. Beliau pun tidak segan menyatakan bahwa sikap cinta tersebut yang mendorongnya untuk berbuat yang terbaik dalam setiap urusan.

Perihal yang kedua adalah tentang 50 gagasan Eyang Habibie. Gagasan tersebut ditulis secara poin-per-poin, dan poin tersebut dibarengi dengan kalimat gagasan dari beliau. 50 gagasan tersebut berkaitan dengan sifat nasionalisme, profesionalisme, romantisme, dan ketuhanan.


Buku ini sebetulnya sudah lama keluar, tahun 2014. Hanya saya saja yang baru baca ini di tahun 2019. Kehausan akan rasa nasionalisme dan bibit semangat untuk melakoni studi lanjutan membuat saya mencari-cari inspirasi. Salah satu yang muncul dibenak adalah sosok Eyang Habibie. Beliau telah menjadi panutan saya sejak tahun 2012 lalu, saat saya menonton film Habibie & Ainun. Mimpinya menjadikan bangsa Indonesia adil dan makmur, sejahtera, dan tenteram telah ia telurkan melalui pesawat terbang yang ia dan tim buat, serta baktinya menjadi seorang presiden.
Salah satu gagasan beliau yang saya sukai adalah:
16. Menjadi Pribadi Kreatif dan Inovatif. "Rahasia untuk bisa mengembangkan diri menjadi pribadi kreatif dan inovatif adalah selalu berpikir secara rinci dan positif. Kualitas karya dan kualitas kerja ditentukan oleh kualitas rinci!"
15. Proses Menuju Keunggulan. "...Yang menentukan dalam proses keunggulan adalah pemahaman dan penerapan 'cinta' dalam arti luas yang dimiliki, meliputi: 1) Cinta pada 'jodoh', orang tua, keluarga, bangsa, negara, dan sesama manusia; 2) Cinta pada karya dan pemikiran umat manusia; 3) Cinta pada profesi, keahlian, tugas, dan pekerjaan; 4) Cinta pada lingkungan hidup yang 'ramah'; 5) Cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT.
Mungkin review buku yang saya lakukan ini tidak cukup komprehensif menceritakan isi buku. Saya sangat merekomendasikan anda untuk membacanya sendiri. Jikalau ada kesempatan untuk saya bertemu Eyang, saya ingin sekali menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran beliau dalam hidup saya secara tidak langsung. Selain itu, saya juga ingin beliau mendengar ide yang saya bangun, berharap beliau memberi tanggapan 'lanjutkan' atau 'tidak'. Semoga tulisan ini ada manfaatnya ya!

Comments

  1. Wah menarik sekali tulisannya Fariz.

    Nampaknya membaca buku seperti ini sangat diperlukan ketika sudah meninggalkan bangku kuliah, dimana idealisme perlahan-lahan digerus oleh realita. Butuh energi untuk tetap mempertahankan idealisme itu dan membaca buku ini layaknya suntikan energi untuk tetap bermimpi, bekerja, dan berkarya.

    Tetap semangat Fariz! Terima kasih atas ulasannya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Beri komentarmu di sini ya.