Selayang Pandang - Revolusi dari Secangkir Kopi

[ini adalah posting saya di blog sebelumnya, disimpan di sini agar tidak hilang]
 
Revolusi dari Secangkir Kopi, sebuah novel yang ditulis oleh Didik Fotunadi. Cukup tebal, 446 halaman. Novel ini memiliki cover berwarna coklat-oranye seperti warna meja, dengan secangkir kopi sebagai maskotnya. Diterbitkan oleh Mizan. Di cover depan dan belakang ada komentar dari beberapa orang yang terkenal sebagai aktivis. Di cover belakang juga terdapat gambaran umum tentang novel ini. Penulis bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama. Olah kata yang digunakan penulis dalam menggambarkan suasana di cerita membuat kita seolah-olah “hanyut” dalam suasana tersebut. Secara umum, novel ini ringan tetapi bermakna lebih dari sekedar cerita.

Novel ini menceritakan kehidupan seorang Didik, yang tak lain adalah penulis itu sendiri. Penulis menceritakan kehidupan Didik sedari SMA hingga perkuliahan. Ia menggambarkan bahwa kehidupannya “hidup” dari peristiwa yang dialami, diawali dari pengamatannya terhadap kampung Gedog (buruh tani, rakyat miskin), lalu mulai mengenal aktivitas kampus (PSIK ITB, GEA ITB), hingga menjadi aktivis di peristiwa penggulingan Soeharto tahun 1998. Pertanyaan-pertanyaan  sering muncul disela-sela peristiwa, “apa? mengapa? bagaimana?” menjadi bumbu dari ceritanya. Berbagai pertanyaan itulah yang membuat Didik  mencari jawaban. Sering Didik mendapatkan jawabannya, tak jarang pula hanya digantung untuk menambah penasaran pembaca. Penulis sering sekali mengulang peristiwa yang sangat mempengaruhi dirinya, antara lain tentang buruh tani yang tidak maju-maju, bapak ibunya yang sudah makin tua dan lelah, sahabat-sahabat yang diterpa kesulitan hidup, dan juga cinta yang membutakan. Yang paling khas adalah catatan Didik tentang ATURAN KEPEMIMPINAN, yang ia catat setiap kali mendapat pencerahan tentang sifat kepemimpinan.

Setelah membaca novel ini, saya menangkap bahwa dalam membangun jati diri seseorang harus ada proses yang bermakna. Proses yang bermakna ini bisa pendek, panjang, berat, ringan, menyesakkan dada, hampir membunuh. Bisa juga berasal dari peristiwa yang dialami oleh Didik, ataupun yang hanya dilihatnya saja. Saya juga belajar bahwa sebagai seorang dewasa, kita dituntut untuk mampu memilih jalan hidup. Penulis membuktikannya melalui kejadian-kejadian saat sang ibunda bilang ke Didik agar tidak ikut demo, lulus saja yang cepat. Padahal di sisi lain, ada tuntutan hati untuk ikut membela kebenaran, melawan kediktatoran, menuntut hak asasi manusia. Proses gagal dalam memilih jalan pun ada di cerita ini, dibarengi dengan belajarnya Didik terhadap kegagalan itu.
Ceritanya menggugah semangat dan mendorong kita untuk beraksi. Dengan begitu, saya memberikan predikat : RECOMMENDED

Comments