Pindah Bidang Menjadi Seorang Software Engineer: Batu Loncatan 2018

Hola pembaca setia madski traveling!

Dalam post ini aku ingin menyampaikan cerita perjalanan saya yang baru saja dimulai awal Bulan Desember 2018. Setelah saya lulus dari pendidikan Magister Teknik Dirgantara dari ITB dan juga pergi ke Singapura untuk menghadiri konferensi ilmiah ICARCV 2018 (perjalanan yang ini belum saya buat ceritanya), saya memutuskan untuk bergabung dengan sebuah perusahaan IT yang mengembangkan produk web service. Namun, pekerjaan saya tidak persis sama bidangnya dengan pembelajaran di studi magister. Saya bekerja sebagai Software Engineer.

Heran??? Bertanya-tanya "Kok pindah bidang, gak sayang dengan keilmuannya?". Lewat post ini saya ingin menjawab pendapat pribadi saya.

Pindah bidang bukan berarti melupakan keilmuan sebelumnya.

Mungkin ada pernyataan-pernyataan seperti "kuliah hanya untuk dapat gelar, ketenaran, bisa kerja dengan gaji tinggi, dan lain-lain". Namun, bagi saya berkuliah bukan sekadar itu. Saat berkuliah sarjana, mahasiswa sudah merasakan bagaimana dituntut untuk menyelesaikan permasalahan secara sistematis, kreatif, dan kritis. Pola pikir seperti inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan dalam bidang lainnya.

Sebagai contoh, salah satu syarat lulus perkuliahan sarjana Teknik Dirgantara adalah dengan melewati tugas besar - Desain Pesawat Udara. Di sini mahasiswa bergabung dalam kelompok dan bersama-sama menyelesaikan permasalahan desain pesawat udara yang diberikan oleh dosen pengampu. Permasalahan yang diberikan telah disiapkan sedemikian rupa sehingga berkaitan dengan tantangan masa kini. Tentu dalam permasalahan tersebut dijabarkan Design Requirements and Objectives (DRO)-nya. DRO ini akan menjadi dasar dari keputusan desain yang diambil dalam rangkaian proses desainnya - preliminary design, iterasi, detail design, iterasi, prototype testing, iterasi, production, user acceptance test, dan seterusnya.

Sama halnya dengan proses penyelesaian masalah di atas, dalam pekerjaan baru saya proses penyelesaiannya serupa. Ada langkah-langkah desain dan juga iterasi. Pada tahap lanjutan ada pengujian lokal dan pengujian langsung oleh user. Artinya, seperti telah disampaikan pada 2 paragraf sebelumya, pola pikir yang telah tertanam dari studi di universitas bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan permasalahan dalam bidang lainnya.

Pindah bidang bukan berarti menutup pintu berkarir pada bidang sebelumnya.

Ya, ini betul-betul saya lakukan karena bidang keilmuan Teknik Dirgantara, khususnya pada bidang sistem kendali, sudah menjadi minat saya sejak SMA. Perkembangan teknologi yang pesat juga mendorong hasrat saya untuk mengikutinya. Selain itu, saya juga berminat untuk melanjutkan studi di jenjang berikutnya hingga berkarir dalam bidang penelitian. Untuk memenuhi semua itu, saya tetap belajar di luar waktu kerja. Belajar ini bisa dilakukan dengan membaca buku, publikasi, artikel, kursus online, dan lain-lain. Pokoknya jangan sampai ketinggalan dengan perkembangannya. Selain itu, saya juga mencari calon pembimbing dan kampus yang cocok dan mau menerima saya sebagai calon doktor. 

Tugas kita adalah berusaha yang terbaik dan untuk beribadah kepada-Nya. Untuk hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Rencana boleh saja besar. Namun, yang menentukan hasilnya adalah Allah SWT. Hal ini selalu ditekankan oleh ayah saya - beliau tidak henti-hentinya mendorong saya untuk keluar dari zona nyaman. Mencari program doktoral atau program lainnya yang bisa membawa diri ini naik tingkat ke level yang lebih tinggi, serta membawa solusi atas permasalahan yang ada di masyarakat. Jangan sampai diri ini terlena dengan kenyamanan, gaji bulanan, apalagi santai-santai. Terus berusaha yang terbaik, untuk hasilnya kita kembalikan pada keputusan Allah SWT. 

Okelah ini akhir dari posting saya. Semoga dari post ini bisa diambil manfaatnya. Mudharatnya ditinggalkan saja. Bubye!

Comments