Alhamdulillah Pernah Studi di ITB, Suatu Kehormatan

"Tempat ini diberi nama PLAZA WIDYA NUSANTARA
supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi;
supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya;
Supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian;
supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa."
Bandung, 28 Desember 1996
Rektor Institut Teknologi Bandung,
Prof. Wiranto Arismunandar

Halo sobat madski traveling! Kalimat di atas adalah kalimat yang ditulis di atas tugu Plaza Widya yang berada di tengah-tengah kampus ITB. Kalimat ini membawa pesan yang hebat, sekaligus berat. Bagaimanapun, kalimat yang ditanda-tangani oleh Prof. Wiranto Arismunandar tersebut dibebankan kepada kampus serta lulusannya. Kampus ini seharusnya merepresentasikan civitas akademika ITB yang tergabung di dalamnya, dan lulusannya merepresentasikan alumni yang pernah menjadi civitas akademika ITB. Maka, setiap individu yang disebut di sini memiliki amanah sesuai dengan klasifikasinya, "kampus" atau "lulusan".
***

Ucapan syukur atas pencapaian saat ini.


Halo sobat Madski Traveling! Pertama-tama, saya ingin mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT, yang dengan ridho-Nya, rezeki-Nya, serta petunjuk-Nya saya berhasil melewati proses pendidikan sarjana dan magister di ITB dalam waktu 5 tahun.  Pencapaian ini adalah bagian dari mimpi saya yang telah ada sejak mulai masuk kuliah. Memang semua yang ditakdirkan untuk kita diatur oleh Allah SWT, kita hanya bisa berusaha dan meminta petunjuk kepadaNya. Dan sekali lagi alhamdulillah, ternyata saya ditakdirkan untuk bisa mencapai apa yang telah diimpikan.

Mendapat kesempatan menjalani pendidikan di ITB merupakan sebuah kehormatan sekaligus sebuah amanah yang berat. 

Kehormatan tersebut didapat karena ITB adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di dalam negeri ini (selalu bertengger di posisi 5 besar selama saya studi di sini). Artinya kesempatan untuk meningkatkan nilai diri terbuka luas, terbukti dengan banyaknya pilihan berkegiatan dengan dukungan moral maupun materi dari internal maupun eksternal kampus.

Klasterisasi Perguruan Tinggi Non-Vokasi Tahun 2018 oleh Kemenristekdikti, di mana setiap kampus dinilai 1) Kualitas SDM, 2) Kualitas Kelembagaan, 3) Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan, 4) Kualitas Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, 5) Kualitas Inovasi.


Rangking universitas di Indonesia berdasarkan QS World Universities Rangkings dan The World Universities Rangkings per tanggal 2 November 2018.

Amanah yang berat muncul karena mahasiswa yang mengenyam pendidikan di ITB "dituntut" untuk menjadi pemimpin bangsa maupun pemimpin secara global di masa depan. Bayangkan, sejak pertama kali diterima ke kampus ini saya seolah-olah "mewakili" 20 orang lain yang tidak diterima. Apabila mahasiswa sarjana yang diterima masuk ke ITB dalam 1 tahun berada di kisaran 3.500 orang, maka ada 70.000 orang yang menitipkan amanahnya setiap tahun kepada mahasiswa ITB.

Belum lagi biaya pendidikan di kampus ini yang relatif mahal. Siapapun mahasiswanya, mereka harus ingat kepada siapa yang memberinya biaya kuliah. Mahasiswa tersebut harus menjawab amanah yang diberikan oleh pemberi biaya tersebut. Bagi saya, pemberi biaya kuliah utama adalah orang tua. Maka, saya harus menjawab amanah yang dititipkan oleh orang tua saya.

Puas Berpartisipasi dalam Kegiatan Kampus

Di kampus ITB ini banyak sekali kegiatan yang bisa diikuti mahasiswa. Kegiatan tersebut mencakup kegiatan kulikuler, kegiatan kokulikuler (penelitian, proyek, kompetisi, exchange, dll), dan kegiatan ekstrakulikuler (organisasi kemahaiswaan, unit kegiatan, dll). Artinya, kesempatan mendapat pengalaman berharga sangat banyak. Pada akhirnya, mahasiswa itu sendiri yang menentukan akan mendapat apa dia selama mengenyam pendidikan di sini.

Saya sendiri telah mengikuti berbagai kegiatan selama mengenyam studi sarjana maupun magister. Kegiatan kemahasiswaan saya diawali dengan mengikuti unit kegiatan Aikido dan unit aktifitas Tenis Meja (UATM). Namun, keaktifan saya di kedua unit kegiatan ini mulai menurun semenjak saya mengikuti kepanitiaan wisuda terpusat. Setelah naik ke tingkat 2, saya berkegiatan aktif di dalam himpunan Keluarga Mahasiswa Teknik Penerbangan (KMPN) ITB. Di sini saya mendapat amanah sebagai ketua angkatan, dewan perwakilan angkatan, ketua divisi kominfo panitia wisuda, hingga terakhir menjadi kepala divisi kominfo BPP KMPN.

KMPN ITB, tempat para mahasiswa Teknik Dirgantara ITB berhimpun, ini telah menjadi rumah saya semenjak tingkat 2.

Selanjutnya, saya masuk menjadi calon mahasiswa S2 melalui jalur Fast Track. Dengan status tersebut saya mulai mendapat amanah untuk menjadi asisten perkuliahan, mulai dari perkuliahan TPB hingga perkuliahan tingkat 4, dan asisten laboratorium DyCoS/Getar (laboratorium tempat saya hidup selama menjalani studi magister, thanks to Bapak Dr. Rianto). Sembari menjadi asisten, saya juga menjalani pekerjaan sebagai peneliti membantu para dosen yang memberi saya amanah. Kegiatan ini terus berlangsung hingga saya resmi menjadi mahasiswa S2, bahkan hingga saya lulus jenjang magister.

Apabila melihat kembali daftar kegiatan yang telah saya ikuti, saya merasa puas dengan apa yang saya lakukan selama 5 tahun ke belakang. Ada sejumlah nilai tambah yang berhasil masuk ke dalam diri ini. Kekurangan pasti ada, tapi hal itu cukup menjadi pembelajaran untuk tidak terulang lagi di masa depan.

ITB, terima kasih!

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada ITB. Ucapan terima kasih ini saya berikan kepada ITB yang mewakili setiap elemen di dalamnya, yaitu "kampus" dan "lulusannya". Maka, ucapan ini disampaikan kepada siapapun dan apapun yang telah ada dan berkontribusi dalam kehidupan saya di kampus ini. Tanpa ada ITB, saya tidak akan menjadi Mamad yang sekarang.

Penghargaan untuk ITB, logonya saya pajang di tubuh posting ini.

Sekarang, izinkan saya tinggal landas dari ITB dan terbang tinggi ke angkasa untuk mengejar bintang-bintang mimpi dan menjawab lautan amanah.

Comments