Mendaki Gunung Lembu dalam 1 hari

My trip my adventure!
Hahaha, kata-kata yang sudah viral semenjak tayangan dengan judul tersebut muncul di salah satu channel televisi di Indonesia. Halo sobat Madski Traveling! kali ini aku mau membagikan pengalamanku mendaki Gunung Lembu dalam 1 hari, tepatnya di Bulan Oktober 2017. Fyi ya, ini pertama kalinya aku mendaki gunung lho! Terbayang kan gimana excited-nya? Aku pun setuju saja saat diajak, karena temanku bilang, "Gunung Lembu cocok kok untuk pemula". Tidak begitu tinggi puncaknya, masih lebih pendek dari Gunung Bromo 2329 mdpl (bener gak ya?).

Oh ya, traveling kami ini disponsori oleh SKAI Apparel #malahpromosi. Pakai baju ini bikin badan gak ribet karenya nyaman banget! Dalam perjalanan ini ikut pula fotografer handal Arief Harfiansyah (M.A.H. Photography). Jangan heran kenapa fotonya bagus-bagus, hahaha.

Ini nih kaos dari SKAI Apparel

Sekilas tentang Gunung Lembu

Gunung Lembu terletak di Kabupaten Purwakarta, dekat Waduk Jatiluhur. Puncak gunung ini terletak di ketinggian 780 mdpl (Wikipedia). Selepas puncak Gunung Lembu, ada lokasi yang sangat menarik untuk dikunjungi, yaitu Batu Lembu. Berdasarkan informasi yang saya dapat sebelum mendaki, pemandangan dari atas Batu Lembu sangat menakjubkan. 

Apakah benar di puncaknya tertulis ketinggian 780 mdpl? Apakah benar pemandangan dari atas Batu Lembu menakjubkan? Ayo kita bongkar semuanya melalui perjalanan ini!

Persiapan

So pasti kita harus bersiap-siap sebelum perjalanan. Ada beberapa persiapan seperti rencana dan rute perjalanan, perlengkapan yang harus dibawa,  cek kendaraan, dan prediksi cuaca. 

Fyi, aku dan tim terdiri dari 6 orang dan berangkat dari Kota Bandung. Kami rencanakan berangkat pukul 4 pagi dan sampai pukul setengah 7 pagi. Karena menggunakan sepeda motor, otomatis kami menggunakan jalur non tol. Karena sekarang melihat peta sangat mudah menggunakan Google Maps, tentu kami menggunakannya. Kira-kira rute perjalanannya dari Bandung ke Desa Panyindangan, tempat di mana pos pendaftaran pendaki berada, seperti yang digambarkan di bawah. Kami juga cek kesiapan motor di hari H, mulai dari ban, rem, hingga bensin.

Opsi rute dari Bandung ke Desa Panyindangan

Kemudian kami menyiapkan perlengkapan seperti baju ganti, sepatu, jaket, jas hujan/ponco, payung, makanan ringan, air minum, perlengkapan kamera, masker, dan sarung tangan. Sepertinya ini standar ya untuk wisata alam. Mungkin bisa lebih lengkap dengan membawa peralatan survival, tapi sayangnya kami tidak bawa waktu itu. Semua perlengkapan dimasukkan ke dalam ransel.

And the last but not least, prediksi cuaca. Ini penting banget, karena mendaki gunung merupakan wisata alam. Mau gak mau kita harus berinteraksi dengan alam, termasuk dengan cuacanya. Waktu itu kami pakai Accuweather. (Perlu ditekankan kalau ini hanya untuk prediksi cuaca, bukan untuk dipercaya 100% karena semua kehendak Sang Pencipta :D). Alhamdulillah, di hari kami mendaki cuaca diprediksi cerah dari pagi sampai sore. Jadi kami memutuskan untuk tetap pergi dengan mempersiapkan diri menghadapi hujan di sore hari.

Persiapan sudah selesai. So, tunggu apalagi? let's go!  

Let's go!

Jam 5 pagi (setelah solat Subuh, dan tidak sesuai rencana) kami berkumpul di Jalan Ganesha. Setelah semuanya datang, kami pun berangkat. Jalur yang kami lalui sama seperti yang diarahkan di Google Maps. Kami ke arah Jalan Pasteur, Cimahi, Padalarang, dan beberapa desa. Pemandangan di sepanjang jalan setelah melewati Padalarang sangat indah. Ada kebun teh, jalan tol Purbaleunyi, dan perbukitan yang bercahaya akibat sinar matahari yang baru terbit. Udaranya pun sejuk dan segar untuk dihirup. Di jalan kami seringkali berpapasan dengan motor, mobil, dan truk-truk besar. Ada yang ngebut, ada pula yang lambat. Sekitar 2 jam kemudian, kami belok ke suatu jalan berbatu yang berlatar belakang sebuah gunung. "Wah, kayaknya ini nih Gunung Lembu.".

Selama 30 menit kemudian jalanan masih naik-turun dan berkelok-kelok. Kadang kami berhenti untuk sekedar memastikan jalur yang dilewati benar dengan melihat GPS, walaupun tanpa koneksi internet. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan sarapan di sebuah warung. Warungnya terbuat dari Bambu dan ada kaca yang menutupi etalase makanannya. Kami pun makan makanan yang berbeda. Ada yang makan nasi dan lauk pauk, indomie, bubur, atau sekedar ngopi dan makan makanan ringan bermecin.

Indomie untuk sarapan, pas gak ya buat persiapan naik gunung?
Selesai sarapan, kami cek lagi rute perjalanannya. Dari GPS tertulis bahwa kami butuh 30 menit lagi untuk sampai ke pos pendataran.

Pos Pendaftaran

Singkat cerita kami sampai di pos pendaftaran. Awalnya kami melihat lokasinya seperti rumah warga pada umumnya. Yang berbeda adalah adanya lapangan parkir yang cukup luas dan saung yang terlihat seperti pos pendaftaran. Di tempat parkir, ada pepohonan yang terlihat unik dan cocok untuk jadi background foto. Jadilah fotonya seperti gambar di bawah, sekaligus menandakan awal dari pendakian kami.

Berfoto sebelum mendaki Gunung Lembu

Setelah itu, kami bergegas ke pos pendaftaran. Untuk mendaftarkan diri kita cukup menuliskan nama, asal, nomor hp, waktu datang, dan membayar biaya sumbangan. Biaya sumbangannya Rp10.000,- atau boleh lebih. Terdapat rute pendakian Gunung Lembu yang dipajang di salah satu sudut saung. Tentu sebagai pendaki kita harus baca dahulu, karena di sana juga tertulis panduan seperti Do's and Don't's. Di sini terdapat toilet yang cukup untuk buang air kecil maupun buang air besar. 

Berjalan menuju pos pendaftaran yang terletak di sebelah kanan

Setelah semua persiapan di pos pendaftaran selesai, pendakian pun dimulai.

Mendaki Gunung Lembu!

Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.00. Awal jalur pendakian persis berada di samping pos pendaftaran. Setelah berdoa bersama, kami mulai pendakian ini. Awalnya biasa saja seperti berjalan di atas tanah yang datar. Semua berubah saat kami menemukan tanjakan dengan anak tangga yang curam. Awalnya aku tidak yakin, begitu pula teman-temanku. Kami semakin ragu karena, selain jalur yang curam, tidak ada orang lain yang mendaki maupun yang turun. Seolah-olah di hutan tersebut hanya ada kami. Beberapa kali kami menemui persimpangan, kami memilih jalur yang lebih curam sambil berdoa semoga jalur yang kami pilih benar. Beberapa kali kami berhenti karena lelah serta barang bawaan yang berat (maklum kami bukan pendaki gunung yang profesional, kami pemula kk).

Bisa dibayangkan kan kondisi jalur pendakiannya?

Selama mendaki kami melewati banyak anak tangga yang terbuat dari tanah. Sepertinya air hujan dan injakan pendaki menyebabkan tanah nya sebagian kecil menjadi lumpur, sehingga kadang jalurnya licin. Yang lebih bermasalah lagi, pegangan di sisi jalur biasanya berupa tali atau bambu, yang tidak seluruhnya kokoh. Kadang juga pegangan itu tidak ada, jadi harus mengandalkan paha dan betis #harusstrong. 

Setelah mendaki sekitar hampir satu jam, kami sampai di Pos 1. Pos 1 ini berbentuk warung-warung. Di sini kita bisa mengisi perut atau membasahi kerongkongan yang penuh dahaga (???). Layaknya warung pada umumnya, di sini tersedia minuman botol yang bervariasi dan makanan ringan. Autan juga tersedia lho! Wajib pakai autan di sini, karena menurut penjaga warung nyamuknya banyak. Kan jadi gak nyaman kalau mendaki sambil gatal-gatal. Btw, pemandangan dari Pos 1 ini bagus juga lho! Apalagi kalau dari atas bangunan bambu ini. Terlihat sebuah gunung di seberang dan Waduk Jatiluhur di bawahnya. Dari sana pun terlihat bahwa posisi kami sudah cukup tinggi dibanding pos pendaftaran. Jalur yang curam menjadikan kita sampai ke ketinggian yang tinggi dalam waktu yang singkat.


Saya berfoto di atas bangunan bambu di Pos 1 Gunung Lembu

ngobrolin apa ya?

Setelah puas berfoto, menghilangkan dahaga, dan memakai Autan, kami melanjutkan pendakian. kami melewati 1 warung yang dijaga oleh sepasang suami-istri paruh baya serta 2 ekor anjing. Ada anjing yang diikat dan sering menggonggong, sedangkan anjing 1 lagi dibiarkan bebas. Sepertinya anjing yang kedua lebih kalem dibandingkan yang pertama.  


Jalur pendakian setelah melewati Pos 1

Singkat cerita sampailah kami di satu bagian yang seperti jembatan antara 2 bukit. Jalur jembatan ini terbentuk dari bebatuan, dengan kanan dan kiri berupa jurang langsung menuju ke bawah. Di bawah sisi kanan dan sisi kiri kami merupakan Waduk Jatiluhur. Dari atas kami bisa melihat ada beberapa kayak bergerak dari daratan menuju ke tengah perairan. Selain itu, di sini terdapat Sangkar Burung Elang di sisi kiri.Namun saat itu kami tidak melihat ada Elang di sana. Karena pemandangan dari sini juga bagus, kami pun mengabadikan momen tak terlupakan ini serta pemandangan  dari berbagai arah.

Waduk jatiluhur dilihat dari atas jembatan bebatuan antara 2 bukit

Di sini rasanya cahaya matahari terik sekali. Satu dua orang meminta untuk duduk dulu sejenak menunggu awan yang bisa menutupi matahari. Memang sih, di sini cahaya matahari langsung menusuk ke kulit karena pohon-pohonnya berada dipinggir jalur bebatuan. Mau tidak mau kami mundur sedikit dan berteduh di bawah pohon. Tapi, siapa sangka kalau dari arah kanan ternyata ada awan gelap. Kami pun saling pandang, seolah sudah saling mengerti kalau ini pertanda akan hujan. Bergegaslah kami melanjutkan perjalanan dan saling menyemangati, berharap puncak Gunung Lembu tinggal selangkah lagi.

Papan di Puncak Gunung Lembu, 792 Mdpl

Setelah melewati jalur bebatuan yang naik turun, Pos 2 yang berbentuk seperti warung, dan beberapa makam, Alhamdulillah sampailah kami di Puncak Lembu. Di papan tersebut tertulis "Puncak Lembu 792 Mdpl". Aku tidak tahu yang mana yang benar, apakah 780 Mdpl atau 792 Mdpl. Semoga suatu saat ada yang memberi kepastian ya soal ketinggian gunung ini. Di titik puncak ini hanya ada lapangan yang cukup luas dan ditutupi pohon yang rindang. Entah kenapa di sini sangat sepi, tidak ada pendaki-pendaki yang lain. Apa mereka berada di obyek wisata yang lain?

Di sisi lain, ada papan bertuliskan "Batu Lembu, 35 m". "Wah, ini nih obyek wisatanya. Ayo berangkat!" Kataku semangat kepada yang lain. Tapi, teman-teman sepertinya tidak setuju untuk langsung ke Batu Lembu mengingat saat itu pukul 11.30. Artinya sebentar lagi matahari persis berada di atas kepala. Langsung terbayang kan bagaimana panasnya di Batu Lembu nanti bagaimana. Akhirnya kami turun sedikit dari Puncak Lembu dan berhenti di sebuah batu yang besar. Di sini kami beristirahat, makan snack, dan main Ludo. Fyi aja nih ya, aku menang main Ludo itu setelah kami saling makan pion. Ternyata persahabatan tidak berlaku dalam Ludo, hahaha
#tipsmadskitraveling :
Siapkan board game untuk dimainkan di saat-saat luang. 
Main Ludo berenam di bawah pohon yang rindang, wah asyik pokoknya!


Peristirahatan kami di batu besar tersebut terpaksa selesai sekitar pukul 13.30 karena ada seekor anjing yang ikut naik. Kami pun panik dan perlahan-lahan turun dari batu itu. Yang aneh, anjing tersebut seperti mengajak kami ke Batu Lembu. Kami pun mengikuti anjing itu menuruni anak tangga melewati jalur pepohonan. Sesekali anjing itu berhenti sehingga kami ikut berhenti juga. Suatu saat kami bertemu sepasang ABG dan menanyakan di mana lokasi Batu Lembu. "Ada di bawah a, ikutin jalan aja nanti sampai. Yang penting makanan harus disimpan, kalau enggak nanti diambilin sama monyet.". Hah?! Monyet? Ternyata di sini ada sekelompok monyet yang datang dan pergi mencari makanan. Yang unik lagi, monyet-monyet tersebut tidak berani turun dari pohon jika ada anjing pemandu tadi. Kepala kelompok monyet dan anjing seolah-olah berargumen, seperti membicarakan sesuatu. Alhamdulillah, kami sampai di Batu Lembu dengan selamat tanpa diganggu oleh monyet.

Batu Lembu dan Pemandangannya yang Menakjubkan

Dan inilah dia obyek wisata Gunung Lembu yang tersohor itu! Dari titik inilah pemandangan Waduk Jatiluhur  180 derajat dan Gunung di seberang sana bisa terlihat. Sangat menakjubkan. Kami beruntung sekali karena di sini cuacanya cerah tapi sedikit tertutup awan, jadi cahaya matahari tidak langsung menusuk. Para pendaki yang lain pun menikmati pemandangan yang menakjubkan ini. Bahkan, ada seorang pengunjung yang sampai membawa bendera merah putih baru untuk menggantikan bendera yang sudah kotor. Hingga sampai di sini, aku baru percaya bahwa Batu Lembu itu benar-benar sebongkah batu.

Papan Batu Lembu


Gunung di seberang Batu Lembu


Menikmati indahnya pemandangan dari Batu Lembu


Mengabadikan momen tak terlupakan di atas Batu Lembu
Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan Waduk jatiluhur ditemani desir angin, kami sempatkan untuk solat jama' Zuhur dan Ashar. Fyi lagi, di sini tersedia musholla lho. Tapi kita harus bawa alat solat, khususnya yang perempuan. Di sekitar Batu Lembu ini juga tersedia warung minuman. Sayang sekali tidak ada kamar mandi ataupun warung makanan.

Pulang

Tibalah akhir dari wisata kami di Batu Lembu ini. Kami pun turun dalam waktu hanya 1 jam! Ternyata turun dari Gunung lebih cepat daripada mendaki. Hahaha, maaf ya kalo kesimpulannya payah banget. Singkat cerita kami sampai kembali di pos pendaftaran dan bebersih. Saat itu cuaca sudah mendung, jadi kami bergegas rapi-rapi dan kembali ke motor. Betul saja, di perjalanan kami kehujanan. Namun, semua itu bukan masalah karena hari ini kami sudah buat rekor baru : mendaki Gunung Lembu!

Comments